Kamis, 12 Agustus 2010

Lega

Hatimu merindunya
Si keras kepala yang kerap memintamu turut melihat bintang
Tapi tak juga kau hentikan larimu

Ingin tak ingin, kata-katanya pernah menohok egomu
Hingga dinding-dinding batu tegak antara kalian

Segala hebat kau rapati
Semakin membuatmu jauh lebih darinya

Lalu kau terpaku saat tak sejenak pun dia kagum atas semua
Dan resah pun datang tanpa diminta

Petang itu, dia ulurkan tangan
"Maaf, ya.", katanya tulus

Akhirnya kau paham
Cuma langkah kecil itu yang kau perlu
Karna di detik berikutnya
Segala yang sekian tahun kau tahan meluncur cepat:
"Maaf, maafkan aku. Maaf atas semuanya."

Dari senyumnya kau tahu
Jejak luka itu telah lama sirna

Tidak ada komentar:

Posting Komentar